<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Risanggeni</title>
	<atom:link href="http://risanggeni.wordpress.com/about/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://risanggeni.wordpress.com</link>
	<description>BERKATA UNTUK MELUAS</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2009 18:22:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: risanggeni</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-91</link>
		<dc:creator>risanggeni</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 12:20:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-91</guid>
		<description>Thank&#039;s supportnya. terus berjuang mencari jalan kebenaran

Salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thank&#8217;s supportnya. terus berjuang mencari jalan kebenaran</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Arimbi Bagaskoro</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-88</link>
		<dc:creator>Arimbi Bagaskoro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 04:15:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-88</guid>
		<description>Risanggeni...
itu yang aku kenal, seorang filosofis dengan gaya dan style yang sangat sangat sederhana, aku sangat rindu, rindu terhadap komentar komentar tentang kehidupan yang sering kau ajarkan padaku, itu yang membuat aku berani lancang untuk menulis disini. rasa yang dulu kecil kini berkembang menjadi sebuah kebanggan akibat celotehmu untuk diriku, bagiku kau lebih besar dari pada Susilo Bambang Yudhoyono (BIG hahaha...) kau lebih pintar dari Ki Joko Bodo. terimakasih guruku, terima kasih Risanggeni, Terima kasih Pak...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Risanggeni&#8230;<br />
itu yang aku kenal, seorang filosofis dengan gaya dan style yang sangat sangat sederhana, aku sangat rindu, rindu terhadap komentar komentar tentang kehidupan yang sering kau ajarkan padaku, itu yang membuat aku berani lancang untuk menulis disini. rasa yang dulu kecil kini berkembang menjadi sebuah kebanggan akibat celotehmu untuk diriku, bagiku kau lebih besar dari pada Susilo Bambang Yudhoyono (BIG hahaha&#8230;) kau lebih pintar dari Ki Joko Bodo. terimakasih guruku, terima kasih Risanggeni, Terima kasih Pak&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: risanggeni</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-86</link>
		<dc:creator>risanggeni</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 07:37:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-86</guid>
		<description>Barangkali jika kita ditakdirkan menjadi pemilik waktu tentu kitapunya kebebasan dalam meilih dan bergerak. Karena Tuhan telah membuat aturan main yang demikian adil dan canggih, hanya kata maaf yang dapat saya sertakan didalam memahami perjalanan ini. Alangkah sulit untuk terus konsisten berada dijalur tujuan. Keadaan memang bagai etalasi yang memberikan berbagai alternatif pilihan langkah. Mohon maaf lahir dan batin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali jika kita ditakdirkan menjadi pemilik waktu tentu kitapunya kebebasan dalam meilih dan bergerak. Karena Tuhan telah membuat aturan main yang demikian adil dan canggih, hanya kata maaf yang dapat saya sertakan didalam memahami perjalanan ini. Alangkah sulit untuk terus konsisten berada dijalur tujuan. Keadaan memang bagai etalasi yang memberikan berbagai alternatif pilihan langkah. Mohon maaf lahir dan batin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ruddy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-72</link>
		<dc:creator>ruddy</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 17:47:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-72</guid>
		<description>Ah, lama juga aku tak mampir dipondok ini, sebuah pondok milik orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, tak pernah kujumpai, dan pemiliknya sempat kukagumi karena karyanya untuk tanah kelahiran.sebuah tanah yang tak pernah kuberi apa-apa, selain secuil harapan yang tengah kususun seperti sebuah puzzle.
   &quot;Apa kabar Mas Risanggeni? ah, ya, kau tentu baik-baik saja, berkutat dengan kata, keliaran imaji dan kemudian sedikit tersedak oleh realitas..&quot; aku berbisik pada tiang pondokan ini. tak ada cicak disitu, selain seekor tokek nangkring ditiang weblog.
   &quot;Sira nang ndi bae Cung? ora ana kabare pisan! isun ngundang sira ketemu ning alun-alun kasepuhan, adu ngelmu dugalan otak..&quot; Tokek itu tiba-tiba bersuara.ah, apa itu kau Mas risanggeni? lalu sejak kapan kau berubah menjadi Tokek yang menunggu pondokan ini? apa sunan gunung jati yang mengutukmu? atau kedua sultan diSinggasananya yang mulai keropok oleh rayap zaman? entah, tetapi sebagai Tokek kau mengenaliku, baiklah, kita berbicara. 
   &quot;Aku baik-baik saja. kau tokek hebat, dapat berbicara! Ah, ya, kau tentu pernah sekolah tinggi dinegeri pertokekkan..&quot; gurauku kepada makhluk yang nangkring ditiang blog itu. 
   &quot;Waaaasssshuuu..!! kau menghinaku ya? ini aku, Risanggeni pemilik pondok ini! dasar cah nom ora duwe tata krama, bocah kampung gledegan..... ( to be continue..hehehhe..)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, lama juga aku tak mampir dipondok ini, sebuah pondok milik orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, tak pernah kujumpai, dan pemiliknya sempat kukagumi karena karyanya untuk tanah kelahiran.sebuah tanah yang tak pernah kuberi apa-apa, selain secuil harapan yang tengah kususun seperti sebuah puzzle.<br />
   &#8220;Apa kabar Mas Risanggeni? ah, ya, kau tentu baik-baik saja, berkutat dengan kata, keliaran imaji dan kemudian sedikit tersedak oleh realitas..&#8221; aku berbisik pada tiang pondokan ini. tak ada cicak disitu, selain seekor tokek nangkring ditiang weblog.<br />
   &#8220;Sira nang ndi bae Cung? ora ana kabare pisan! isun ngundang sira ketemu ning alun-alun kasepuhan, adu ngelmu dugalan otak..&#8221; Tokek itu tiba-tiba bersuara.ah, apa itu kau Mas risanggeni? lalu sejak kapan kau berubah menjadi Tokek yang menunggu pondokan ini? apa sunan gunung jati yang mengutukmu? atau kedua sultan diSinggasananya yang mulai keropok oleh rayap zaman? entah, tetapi sebagai Tokek kau mengenaliku, baiklah, kita berbicara.<br />
   &#8220;Aku baik-baik saja. kau tokek hebat, dapat berbicara! Ah, ya, kau tentu pernah sekolah tinggi dinegeri pertokekkan..&#8221; gurauku kepada makhluk yang nangkring ditiang blog itu.<br />
   &#8220;Waaaasssshuuu..!! kau menghinaku ya? ini aku, Risanggeni pemilik pondok ini! dasar cah nom ora duwe tata krama, bocah kampung gledegan&#8230;.. ( to be continue..hehehhe..)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-55</link>
		<dc:creator>rudy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 21:43:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-55</guid>
		<description>ini, aku hadiahkan puisi buat mas Risanggeni, (puisi yang sebenarnya menjadi bagian dari cerpen berjudul &quot;enam puluh tiga lilin, satu buah puisi&quot; yang tengah aku tulis memperingati hari kemerdekaan ke 63 nanti..)

                                             SATU
                       
                                Kepada satu Indonesiaku
                                bermula dari satu
                                satu derita air mata menjadi satu
                                kesatuan bagai lidi dalam genggaman

                                batang lidi itu kini lepas satu-satu
                                mengibarkan paji satu-satu
                                kesatuan perut buncit kekenyangan
                                satu persatu buncit kelaparan

                                satu nusa,bangsa dan bahasa
                                bersatulah kembali sebagai lidi
                                berikat satu temali
                                satu cinta.

                                                                       Muhammad ruddy. 
                                                           Depok-Bogor. 01-08-2008</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ini, aku hadiahkan puisi buat mas Risanggeni, (puisi yang sebenarnya menjadi bagian dari cerpen berjudul &#8220;enam puluh tiga lilin, satu buah puisi&#8221; yang tengah aku tulis memperingati hari kemerdekaan ke 63 nanti..)</p>
<p>                                             SATU</p>
<p>                                Kepada satu Indonesiaku<br />
                                bermula dari satu<br />
                                satu derita air mata menjadi satu<br />
                                kesatuan bagai lidi dalam genggaman</p>
<p>                                batang lidi itu kini lepas satu-satu<br />
                                mengibarkan paji satu-satu<br />
                                kesatuan perut buncit kekenyangan<br />
                                satu persatu buncit kelaparan</p>
<p>                                satu nusa,bangsa dan bahasa<br />
                                bersatulah kembali sebagai lidi<br />
                                berikat satu temali<br />
                                satu cinta.</p>
<p>                                                                       Muhammad ruddy.<br />
                                                           Depok-Bogor. 01-08-2008</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-54</link>
		<dc:creator>rudy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 21:26:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-54</guid>
		<description>mumpung sedang jenuh menulis, apalagi ngobrol dengan manusia2 sakit di chat room. kembali aku ingin bercerita, sesuatu yg bahkan tak pernah kuceritakan pada org lain. beberapa waktu lalu, kawan2 mahasiswa yg kerap bertukar pikiran denganku,meminta cerpenku untuk jurnalnya, tak ada honor kata mereka, dan aku mengiyakan saja. tapi dalam hati aku tertawa geli mengingat tulisan orang yg tak pernah tamat SD nangkring disebuah Jurnal mahasiswa,hehehehe..beberapa bulan kemudian kawan mahasiswa itu kembali menantang, minta dibikinkan naskah Drama. aku bikinkan, sebuah adaptasi cerpen &quot;lagu diatas bus&quot; karya hamsad, tetapi begitu disodorkan kawan itu menggeleng, terlalu berat katanya. akhirnya aku karang naskah sendiri, eh diterima. naskah itu bahkan dipentaskan dua kali dipasar minggu.hehhee..agak bangga juga aku mas, wong gak pernah bikin naskah drama sebelumnya, apalagi itu bukan sekedar menulis,melainkan juga menyutradarai dan turut memainkannya karena pemerannya utama kabur demam panggung,gak tahan lihat panggung gede..hehhehee..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mumpung sedang jenuh menulis, apalagi ngobrol dengan manusia2 sakit di chat room. kembali aku ingin bercerita, sesuatu yg bahkan tak pernah kuceritakan pada org lain. beberapa waktu lalu, kawan2 mahasiswa yg kerap bertukar pikiran denganku,meminta cerpenku untuk jurnalnya, tak ada honor kata mereka, dan aku mengiyakan saja. tapi dalam hati aku tertawa geli mengingat tulisan orang yg tak pernah tamat SD nangkring disebuah Jurnal mahasiswa,hehehehe..beberapa bulan kemudian kawan mahasiswa itu kembali menantang, minta dibikinkan naskah Drama. aku bikinkan, sebuah adaptasi cerpen &#8220;lagu diatas bus&#8221; karya hamsad, tetapi begitu disodorkan kawan itu menggeleng, terlalu berat katanya. akhirnya aku karang naskah sendiri, eh diterima. naskah itu bahkan dipentaskan dua kali dipasar minggu.hehhee..agak bangga juga aku mas, wong gak pernah bikin naskah drama sebelumnya, apalagi itu bukan sekedar menulis,melainkan juga menyutradarai dan turut memainkannya karena pemerannya utama kabur demam panggung,gak tahan lihat panggung gede..hehhehee..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-53</link>
		<dc:creator>rudy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 21:04:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-53</guid>
		<description>tak bnyak dapat dilakukan oleh seorang anak dusun, yg bahkan tak pernah tamat SD ini. berbekal dendam ia pergi. menyusuri lampu-lampu Cirebon, Jakarta,Jogja, solo sampai surabaya dan kota-kota lainnya. menjadi pedagang emperan dari stasiun ke stasiun, menjajakan buku bekas yang sebagian diambilnya dari lapak kertas bekas yg bertebaran dijakarta. dengan buku2nya ia kerap nampak terpekur, mengagumi Pram, Gunawan Moehammad, atau sesekali tersenyum bersama &quot;Celana&quot; nya Pinurbo. Buku-buku itu kelak membuat orang yang dikenalnya tak percaya, makhluk kurus (tetapi tampan itu,hehehe) tak pernah tamat sekolah dasar. ia berjanji, suatu saat dapat menulis seperti mereka, sastrawan2 itu.  dan ia memang menjadi murid yg baik atas gurunya, buku2 bekas, koran2 bekas, dan segala sesuatu berbau bekas lainnya. komputer dan internet dipelajari sendiri, benar2 memberanikan diri ketika memasuki rental atau warung internet, sebuah kebanggaan, karena setelahnya ia kerap tersenyum mengajari mahasiswa bebal mempelajari dunia maya. ini bukan cerpen, mas risanggeni, hanya sekelumit perjalanan hidupku, curhat, kalau tak mau disebut semacam catatan narsis, hehehehe..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tak bnyak dapat dilakukan oleh seorang anak dusun, yg bahkan tak pernah tamat SD ini. berbekal dendam ia pergi. menyusuri lampu-lampu Cirebon, Jakarta,Jogja, solo sampai surabaya dan kota-kota lainnya. menjadi pedagang emperan dari stasiun ke stasiun, menjajakan buku bekas yang sebagian diambilnya dari lapak kertas bekas yg bertebaran dijakarta. dengan buku2nya ia kerap nampak terpekur, mengagumi Pram, Gunawan Moehammad, atau sesekali tersenyum bersama &#8220;Celana&#8221; nya Pinurbo. Buku-buku itu kelak membuat orang yang dikenalnya tak percaya, makhluk kurus (tetapi tampan itu,hehehe) tak pernah tamat sekolah dasar. ia berjanji, suatu saat dapat menulis seperti mereka, sastrawan2 itu.  dan ia memang menjadi murid yg baik atas gurunya, buku2 bekas, koran2 bekas, dan segala sesuatu berbau bekas lainnya. komputer dan internet dipelajari sendiri, benar2 memberanikan diri ketika memasuki rental atau warung internet, sebuah kebanggaan, karena setelahnya ia kerap tersenyum mengajari mahasiswa bebal mempelajari dunia maya. ini bukan cerpen, mas risanggeni, hanya sekelumit perjalanan hidupku, curhat, kalau tak mau disebut semacam catatan narsis, hehehehe..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-52</link>
		<dc:creator>rudy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 18:38:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-52</guid>
		<description>meski tak menjejak tanah dusun kecilku, ingatan tentangnya selalu ada, dalam tiap prosa-prosa yang kurangkai pada malam ketika mereka tertidur, bercinta, atau membunuh waktu seperti tetangga yang selalu ribut menikmati ganja. terima kasih atas persahabatan ini, saudara Risanggeni, yang seharusnya kupanggil Om atau Bapak...hahaha..seperti Hamsad Rangkuti yang selalu enggan kupanggil Om dan memilih disebut Abang, mungkin kau juga, mau kupanggil Mas saja. entah kapan aku pulang, ini bukan lagi berapa jauh jarak, berapa besar ongkos Luragung atau Cirebon Ekspress, pulang adalah seribu rasa malu, hutangku belum terbayar atas dusun kecilku.. salam persahabatan mas..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>meski tak menjejak tanah dusun kecilku, ingatan tentangnya selalu ada, dalam tiap prosa-prosa yang kurangkai pada malam ketika mereka tertidur, bercinta, atau membunuh waktu seperti tetangga yang selalu ribut menikmati ganja. terima kasih atas persahabatan ini, saudara Risanggeni, yang seharusnya kupanggil Om atau Bapak&#8230;hahaha..seperti Hamsad Rangkuti yang selalu enggan kupanggil Om dan memilih disebut Abang, mungkin kau juga, mau kupanggil Mas saja. entah kapan aku pulang, ini bukan lagi berapa jauh jarak, berapa besar ongkos Luragung atau Cirebon Ekspress, pulang adalah seribu rasa malu, hutangku belum terbayar atas dusun kecilku.. salam persahabatan mas..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rudy</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-46</link>
		<dc:creator>Rudy</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 20:59:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-46</guid>
		<description>hallo pak,salam kenal..dari wong Cirebon, yg skrg jadi pemulung kata diIbukota..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hallo pak,salam kenal..dari wong Cirebon, yg skrg jadi pemulung kata diIbukota..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lembayungjinggasenja</title>
		<link>http://risanggeni.wordpress.com/about/#comment-15</link>
		<dc:creator>lembayungjinggasenja</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 08:49:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-15</guid>
		<description>TETAP LAH UNTUK TERUS MEMBAGI MAKNA HIDUP BAGI SIAPA PUN, KARENA MUNGKIN SEBAGIAN ORANG TIDAK PUNYA BANYAK LUANG UNTUK MEMIKIRKAN MAKNA KEHIDUPAN INI. TERIMA KASIH ATAS SEGALA MAHA KARYANYA YANG TELAH MEMBANTUKU MEMAHAMI KEHIDUPAN INI. NYATA BENAR KIRANYA BAHWA TUHAN TIDAK AKAN MENCIPTAKAN SESUATU TANPA MAKNA....... TERIMA KASIH........TERIMA KASIH... ARIGATO GOZAIMASTA.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TETAP LAH UNTUK TERUS MEMBAGI MAKNA HIDUP BAGI SIAPA PUN, KARENA MUNGKIN SEBAGIAN ORANG TIDAK PUNYA BANYAK LUANG UNTUK MEMIKIRKAN MAKNA KEHIDUPAN INI. TERIMA KASIH ATAS SEGALA MAHA KARYANYA YANG TELAH MEMBANTUKU MEMAHAMI KEHIDUPAN INI. NYATA BENAR KIRANYA BAHWA TUHAN TIDAK AKAN MENCIPTAKAN SESUATU TANPA MAKNA&#8230;&#8230;. TERIMA KASIH&#8230;&#8230;..TERIMA KASIH&#8230; ARIGATO GOZAIMASTA&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
