Oleh risanggeni

DATA PRIBADI

Nama : Arief Agustianto.
Nama tulisan : aR-Gustian
Lahir : Tebing tinggi – Sumatera Selatan
Tanggal : 05 Agustus 1960.
Pendidikan : Sarjana Muda Hukum. Universitas Atmajaya Yogyakarta.
Hobi : Membaca, travelling dan berkarya
Alamat : Jl. Apel No 24 Kalijaga Permai Cirebon
Telepon : 0231 – 485431
HP : 0817 9067 660
0231 – 3308930
Email : cv_insanbaru@yahoo.co.uk
Website : www.fantastiszone.com

DATA AKTIFITAS
Tahun 1984 s.d 2000 Mengajar di Sekolah Menengah Atas yang ada di Kota Cirebon
Tahun 1999 – 2003 Bekerja di Radio Cirebon FM, Cirebon. Mulai menjadi penyiar, Program director, dan terakhir sebagai operasional manager.
Pada tahun yang sama, mendirikan DEWAN KESENIAN CIREBON bersama
Drs Ahmad Syuhbanudin Alwi ( Penulis esai dan pengamat budaya )
Tahun 2004 , Membidani lahirnya LEMBAGA KEBUDAYAAN CIREBON.
Beberapa karya : Menulis buku “Petilasan Kalijaga” bersama Drs. Dodi Sugiarto.
Terbitan Kantor Kebudayaan Kota Cirebon.
Menulis buku perjalanan “Menuju Kutai kertanegara”, terbitan
Lembaga Kebudayaan Cirebon.
Menulis beberapa Naskah Drama untuk Dewan kesenian Cirrebon.


11 Tanggapan ke “Risanggeni”


  1. 1 lembayungjinggasenja
    Oktober 25, 2007 pukul 1:31 pm

    Salut dan selmat untuk Resi Risanggeni…. Sebuah nama tokoh pewayangan yang membumi dan melegenda…. Demikian juga dengan seluruh maha karya Risanggeni yang membumi dan menjadi legenda dalam setiap kehidupan siapa pun….. Saat kata tak lagi di dengar, maka tulisan adalah bentuk apresiasi jiwa yang terampuh.
    Sebuah tulisan mungkin akan pudar, tapi makna dari tulisan tersebut tak kan lekang oleh waktu….. Bravo…cayoooo

  2. 2 lembayungjinggasenja
    November 6, 2007 pukul 8:49 am

    TETAP LAH UNTUK TERUS MEMBAGI MAKNA HIDUP BAGI SIAPA PUN, KARENA MUNGKIN SEBAGIAN ORANG TIDAK PUNYA BANYAK LUANG UNTUK MEMIKIRKAN MAKNA KEHIDUPAN INI. TERIMA KASIH ATAS SEGALA MAHA KARYANYA YANG TELAH MEMBANTUKU MEMAHAMI KEHIDUPAN INI. NYATA BENAR KIRANYA BAHWA TUHAN TIDAK AKAN MENCIPTAKAN SESUATU TANPA MAKNA……. TERIMA KASIH……..TERIMA KASIH… ARIGATO GOZAIMASTA…..

  3. 3 Rudy
    Juni 29, 2008 pukul 8:59 pm

    hallo pak,salam kenal..dari wong Cirebon, yg skrg jadi pemulung kata diIbukota..

  4. 4 rudy
    Juli 31, 2008 pukul 6:38 pm

    meski tak menjejak tanah dusun kecilku, ingatan tentangnya selalu ada, dalam tiap prosa-prosa yang kurangkai pada malam ketika mereka tertidur, bercinta, atau membunuh waktu seperti tetangga yang selalu ribut menikmati ganja. terima kasih atas persahabatan ini, saudara Risanggeni, yang seharusnya kupanggil Om atau Bapak…hahaha..seperti Hamsad Rangkuti yang selalu enggan kupanggil Om dan memilih disebut Abang, mungkin kau juga, mau kupanggil Mas saja. entah kapan aku pulang, ini bukan lagi berapa jauh jarak, berapa besar ongkos Luragung atau Cirebon Ekspress, pulang adalah seribu rasa malu, hutangku belum terbayar atas dusun kecilku.. salam persahabatan mas..

  5. 5 rudy
    Juli 31, 2008 pukul 9:04 pm

    tak bnyak dapat dilakukan oleh seorang anak dusun, yg bahkan tak pernah tamat SD ini. berbekal dendam ia pergi. menyusuri lampu-lampu Cirebon, Jakarta,Jogja, solo sampai surabaya dan kota-kota lainnya. menjadi pedagang emperan dari stasiun ke stasiun, menjajakan buku bekas yang sebagian diambilnya dari lapak kertas bekas yg bertebaran dijakarta. dengan buku2nya ia kerap nampak terpekur, mengagumi Pram, Gunawan Moehammad, atau sesekali tersenyum bersama “Celana” nya Pinurbo. Buku-buku itu kelak membuat orang yang dikenalnya tak percaya, makhluk kurus (tetapi tampan itu,hehehe) tak pernah tamat sekolah dasar. ia berjanji, suatu saat dapat menulis seperti mereka, sastrawan2 itu. dan ia memang menjadi murid yg baik atas gurunya, buku2 bekas, koran2 bekas, dan segala sesuatu berbau bekas lainnya. komputer dan internet dipelajari sendiri, benar2 memberanikan diri ketika memasuki rental atau warung internet, sebuah kebanggaan, karena setelahnya ia kerap tersenyum mengajari mahasiswa bebal mempelajari dunia maya. ini bukan cerpen, mas risanggeni, hanya sekelumit perjalanan hidupku, curhat, kalau tak mau disebut semacam catatan narsis, hehehehe..

  6. 6 rudy
    Juli 31, 2008 pukul 9:26 pm

    mumpung sedang jenuh menulis, apalagi ngobrol dengan manusia2 sakit di chat room. kembali aku ingin bercerita, sesuatu yg bahkan tak pernah kuceritakan pada org lain. beberapa waktu lalu, kawan2 mahasiswa yg kerap bertukar pikiran denganku,meminta cerpenku untuk jurnalnya, tak ada honor kata mereka, dan aku mengiyakan saja. tapi dalam hati aku tertawa geli mengingat tulisan orang yg tak pernah tamat SD nangkring disebuah Jurnal mahasiswa,hehehehe..beberapa bulan kemudian kawan mahasiswa itu kembali menantang, minta dibikinkan naskah Drama. aku bikinkan, sebuah adaptasi cerpen “lagu diatas bus” karya hamsad, tetapi begitu disodorkan kawan itu menggeleng, terlalu berat katanya. akhirnya aku karang naskah sendiri, eh diterima. naskah itu bahkan dipentaskan dua kali dipasar minggu.hehhee..agak bangga juga aku mas, wong gak pernah bikin naskah drama sebelumnya, apalagi itu bukan sekedar menulis,melainkan juga menyutradarai dan turut memainkannya karena pemerannya utama kabur demam panggung,gak tahan lihat panggung gede..hehhehee..

  7. 7 rudy
    Juli 31, 2008 pukul 9:43 pm

    ini, aku hadiahkan puisi buat mas Risanggeni, (puisi yang sebenarnya menjadi bagian dari cerpen berjudul “enam puluh tiga lilin, satu buah puisi” yang tengah aku tulis memperingati hari kemerdekaan ke 63 nanti..)

    SATU

    Kepada satu Indonesiaku
    bermula dari satu
    satu derita air mata menjadi satu
    kesatuan bagai lidi dalam genggaman

    batang lidi itu kini lepas satu-satu
    mengibarkan paji satu-satu
    kesatuan perut buncit kekenyangan
    satu persatu buncit kelaparan

    satu nusa,bangsa dan bahasa
    bersatulah kembali sebagai lidi
    berikat satu temali
    satu cinta.

    Muhammad ruddy.
    Depok-Bogor. 01-08-2008

  8. 8 ruddy
    Maret 2, 2009 pukul 5:47 pm

    Ah, lama juga aku tak mampir dipondok ini, sebuah pondok milik orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, tak pernah kujumpai, dan pemiliknya sempat kukagumi karena karyanya untuk tanah kelahiran.sebuah tanah yang tak pernah kuberi apa-apa, selain secuil harapan yang tengah kususun seperti sebuah puzzle.
    “Apa kabar Mas Risanggeni? ah, ya, kau tentu baik-baik saja, berkutat dengan kata, keliaran imaji dan kemudian sedikit tersedak oleh realitas..” aku berbisik pada tiang pondokan ini. tak ada cicak disitu, selain seekor tokek nangkring ditiang weblog.
    “Sira nang ndi bae Cung? ora ana kabare pisan! isun ngundang sira ketemu ning alun-alun kasepuhan, adu ngelmu dugalan otak..” Tokek itu tiba-tiba bersuara.ah, apa itu kau Mas risanggeni? lalu sejak kapan kau berubah menjadi Tokek yang menunggu pondokan ini? apa sunan gunung jati yang mengutukmu? atau kedua sultan diSinggasananya yang mulai keropok oleh rayap zaman? entah, tetapi sebagai Tokek kau mengenaliku, baiklah, kita berbicara.
    “Aku baik-baik saja. kau tokek hebat, dapat berbicara! Ah, ya, kau tentu pernah sekolah tinggi dinegeri pertokekkan..” gurauku kepada makhluk yang nangkring ditiang blog itu.
    “Waaaasssshuuu..!! kau menghinaku ya? ini aku, Risanggeni pemilik pondok ini! dasar cah nom ora duwe tata krama, bocah kampung gledegan….. ( to be continue..hehehhe..)

  9. 9 risanggeni
    September 23, 2009 pukul 7:37 am

    Barangkali jika kita ditakdirkan menjadi pemilik waktu tentu kitapunya kebebasan dalam meilih dan bergerak. Karena Tuhan telah membuat aturan main yang demikian adil dan canggih, hanya kata maaf yang dapat saya sertakan didalam memahami perjalanan ini. Alangkah sulit untuk terus konsisten berada dijalur tujuan. Keadaan memang bagai etalasi yang memberikan berbagai alternatif pilihan langkah. Mohon maaf lahir dan batin.

  10. Oktober 14, 2009 pukul 4:15 am

    Risanggeni…
    itu yang aku kenal, seorang filosofis dengan gaya dan style yang sangat sangat sederhana, aku sangat rindu, rindu terhadap komentar komentar tentang kehidupan yang sering kau ajarkan padaku, itu yang membuat aku berani lancang untuk menulis disini. rasa yang dulu kecil kini berkembang menjadi sebuah kebanggan akibat celotehmu untuk diriku, bagiku kau lebih besar dari pada Susilo Bambang Yudhoyono (BIG hahaha…) kau lebih pintar dari Ki Joko Bodo. terimakasih guruku, terima kasih Risanggeni, Terima kasih Pak…

  11. 11 risanggeni
    Oktober 16, 2009 pukul 12:20 pm

    Thank’s supportnya. terus berjuang mencari jalan kebenaran

    Salam,


Tinggalkan Balasan




Blog Stats

  • 4,277 hits

 

November 2009
R K J S M S S
« Okt    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930