Arsip untuk Februari 25th, 2009

25
Feb
09

KUCING

Sejak ditinggal mati suaminya, Imah sering merasa kesepian. Apalagi semua anaknya sudah berumah tangga dan punya kehidupan sendiri-sendiri dan tidak ada satupun yang tinggal dengannya. Anak sulungnya, Ratna tinggal di malang karena suaminya pengusaha bunga, mereka tinggal disana. Yang nomor dua, Ira, tinggal di Depok dan si bungsu Lani yang baru tiga bulan lalu kawin, sekarang ikut suaminya ke Banjaramasin. Dirumahnya yang tidak telalu besar itu Imah hanya ditemani Sis, pembantu setia yang sudah tahunan ikut dengannya dan tentu saja berbagai jenis binatang. Dirumah itu ada anjing, beberapa burung kicau, iguana dan masih banyak jenis lainnya. Namun janda itu hanya mampu menikmati kelucuan mereka. Imah sama sekali tidak suka merawat mereka. Jangankan memandikan, sekedar urusan makan saja ia enggan. Sis lah yang setiap hari menjaga hidup binatang-binatang itu, khususnya kucing, meski dia sama sekali tidak punya kepentingan dengan kucing.

Hari itu kamis ketiga November. Sejak sore kucing-kucing Imah ribut ngeang-ngeong. Kaki lembutnya dipukul-pukulkan kekawat kandang yang membatasi hidup mewahnya dengan kebebasan yang hanya berjarak dua senti dari matanya. Kucing itu terus berteriak. Kadang terdengar garang seperti marah, kadang terdengar sangat memelas.

Jam Sembilan malam.

“Tadi sore si Jhon sudah kamu kasih makan, sis?” tanya Imah

“Sudah bu, bahkan air minumnya saya ganti dengan yang baru,” jawab sis setengah teriak dari dapur.

“Coba kamu lihat keluar, kenapa dia ribut terus begitu?” perintah Imah.

“Sakit barang kali bu,” jawab Sis memberikan masukan.

“Ya coba kamu lihat dong. Barangkali bener sakit,” tegas Imah. Sis paham dengan perintah itu, namun sebelum melaksanakan perintah majikannya, ia masuk kekamarnya mengambil sarung tangan kulit tebal. Entah untuk apa padahal dia cuma disuruh memeriksa. Tanpa sebab tiba-tiba kaca rias dikamarnya jatuh dan pecah. Tanpa sadar Sis berteriak dan mengejutkan Imah yang santai duduk didepan tv diruang tengah.

“Ada apa kamu Sis?” tanya Imah

“Kaca rias saya pecah bu,” jawab Sis.

“Kok bisa?”

“Jatuh.” Jawab Sis agak takut.

“Kok bisa?” tanya Imah dengan agak membentak.

“Saya tidak tahu bu, tiba- tiba saja jatuh,” jelasnya. Imah pergi kekamar Sis dan melihat sendiri kaca yang berantakan dilantai kamar.

“Bersihkan dulu nanti kena kakimu,”perintahnya

“Iya bu,” jawab Sis sambil pergi kedapur mengambil sapu dan serok sampah dan Imah kembali keruang tv. Saat itulah ia seperti tersadar. Karena tiba-tiba suasana menjadi sepi. Suara tv menghilang, padahal tvnya dia menyala. Orang jualan yang biasanya mondar mandir didepan rumah juga tiba tiba tidak ada yang lewat. Yang lebih membuat Imah terheran-heran, kucingnya tidak lagi ngeang-ngeong.

“Kamu merasakan sesuatu Sis?” tanyanya saat pembantunya itu sedang menyapu kamar.

“Iya bu. Kok semua tiba-tiba jadi sepi,” jawab Sis

“Ada apa ya?” tanya Imah lagi pelan.

“Saya ngga tahu bu,” jawab Sis pelan juga.

“Si Jhon kenapa diam ya?”

“Saya ngga tahu bu,”

“Pintu pagar depan sudah kamu kunci?”

“Sudah bu,”

“Pintu depan?”

“sudah,”

“Cepat kamu selesaikan nyapunya, terus periksa si Jhon ya!” perintah bu Imah.

“Tapi bu,” protesnya ragu.

“Saya temani…,” ujarnya sambil meninggalkan kamar, namun empat langkah kemudian lampu rumah mati.

“Sis…?” panggil Imah. Tidak ada jawaban. Imah sekali lagi memanggil, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia mulai curiga. Diputuskan untuk kembali kekamar pembantunya itu. Saat matanya difokuskan untuk mencari dimana letak pintu kamar, ia melihat kelebat warna putih yang juga ikut masuk kedalam kamar. Imah mundur kebelakang dan merapatkan tubuhnya ketembok. Gerak jantungnya mulau melambat, mulutnya tersumbat, jari-jari tangannya mati rasa. Ia terkesima dalam takut yang mendera. Apalagi tiba-tiba dikamar terdengar suara orang berbicara lembut dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Tapi Imah tidak ingin bergerak meski takut mengusai dirinya. Ia menunggu, membiarkan semuanya berlangsung. Malam tambah sepi.

Beruntung tidak lama kemudian ada tetangga yang dating, memanggil namanya. Dua tiga kali tetangga itu menanyakan apa yang terjadi, tapi Imah tidak menjawab. Karena saat itu ia melihat tubuh Sis sedang bergerak ditarik oleh tiga mahluk yang samar tapi bentuknya seperti kucing. Mata Imah tertanam disana. Tubuh Sis terus ditarik, pelan menembus tembok kamar, pintu depan dan akhirnya keluar terbang kelangit. Mata Imah terbelalak menyaksikan semua itu. Dengkulnya lemas, badannya merinding. Saat lampu menyala, ia menutup mukanya dan mulai menangis. Mendengar didalam ada yang menangis, para tetangga tadi menerobos masuk dan menjumpai Imah sedang terduduk didepan kamar belakang. Ibu-ibu tetangganya mencoba menenangkan Imah yang sekarang menangis lepas.

**

Diruang tengah sudah berkumpul para pejabat kampung. Ada pak Yudi yang ketua RW, kang Iwan sekretaris dan beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan rumah Imah.

“Bagaimana semua itu bisa terjadi bu?” tanya Yudi

“Saya tidak tahu pak,” jawab Imah.

“Sebelumnya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan?”tanya Yudi lagi.

“ngga ada pak.”

“Sekarang pembantu ibu kemana?”

“Entah. Dia dibawa oleh kucing-kucing itu.”

“Kucing yang mana bu?”

“kucing-kucing yang warnanya putih,” jawab Imah lemas. Mendapat jawaban yang tidak mereka pahami. Pak Yudi mencoba bertanya kepada semua yang ada diruang itu, barangkali saja ada yang punya pengalaman seperti kejadian Imah.

“Bagaimana bapak-bapak. Kejadian semalam sungguh tidak lazim. Tapi itu terjadi,” ujar pak RW

“Iya, barangkali dari bapak-bapak yang ada disini tahu atau pernah mengalami hal seperti yang dialami bu Imah?” tambah kang Iwan.

“Aneh,” celetuk bapak yang berbaju kaos hitam

“Saya sudah tinggal disini lebih dari lima tahun, belum pernah lihat ada kejadian seperti ini,” timpal bapak satunya.

“Lalu sekarang bagaimana pak RW?” tanya ibu zaenab.

“Kita harus mengambil sikap. Apalagi si Sis tiba-tiba menghilang. ini harus dilaporkan ke polisi,” jelasnya.

“Saya setuju pak. Jangan sampai kita yang disalahkan,” usul bapak yang berkaos hitam lagi.

“Bagaimana pak Iwan?” tanya pak Yudi.

“Sebaiknya kita cek sekali lagi pak. Maaf bu Imah boleh kami masuk kekamar belakang?” usul Iwan.

“Sudah ngga ada apa-apa. Kaca rias hilang, foto yang ditembok juga hilang,” terang Imah.

“Karena itu kami ingin lihat. Barangkali saja ada yang dapat menjadi petunjuk,” jelas Iwan lagi.

“Iya bu, biar sama- sama enak. Boleh ya bu?” sambung pak RW

“Silahkan,” jawab Imah. Bapak-bapak yang empat orang itu berdiri dan langsung menuju kamar belakang dekat dapur. Disana mereka melihat kamar sudah rapih. Dan seperti dijelaskan oleh Imah. Kaca rias dan foto memang tidak ada. Mereka memeriks setiap sudut.

“Fenomena apa ini pak?” tanya Iwan yang tiba-tiba merasa ada yang memukul pundaknya. Ia menoleh tapi tidak ada siapa-siapa. Padahal sebelumnya ia datang bersama bapak-bapak yang lain.

“Kemana mereka semua,” pikir Iwan.

“Pak RW?!” ia memanggil Yudi, tapi tidak menyahut. Iwan memutar tubuhnya, mencari disekelilingnya, tapi tempat itu kosong. Deg..jantungnya memberikan sinyal kuat. Ia segera menarik nafas panjang karena menyadari sesuatu telah terjadi pada dirinya. Dengan tenang Iwan tetap berdiri menghadap kedalam kamar.

“Silahkan kalau memang ada yang ingin disampaikan,” ujarnya

Tiba- tiba Sis muncul dari dalam tembok ditemani tiga kucing besar berwarna putih. Mereka tampak gembira.

“Jangan pernah menyiksa binatang yang tidak bersalah,” ujar Sis lembut sambil mengusap kepala kucing yang berada digendongannya.

“Siapa yang menyiksa?” tanya Iwan mantap.

“Kalian,” jawab Sis

“Termasuk saya?” tanya Iwan tegas.

“Iya..!”

“Kok?”

“Ayam pelung yang kamu simpan dikandang selama lebih dari dua tahun, apakah itu bukan penyiksaan,” jawab Sis masih dengan lembut.

“Tapi ayam itu memang harus dikandang supaya tidak lepas. Apa itu salah?” tanya Iwan.

“Bagaimana kalau kamu yang dikurung? Apa rasanya?” jawab Sis kemudian.

“Lalu saya harus bagaimana?” tanya Iwan mencoba mencari jawaban.

“Lepaskan mereka semua. Mereka mahluk hidup yang butuh kebebasan, Sama seperti kamu,” jawab Sis.

“Cuma itu?” tanya Iwan lagi.

“Lepaskan juga sifat binatang yang ada didalam diri kamu. Biarkan dia terbang dan bermain bersama hidupnya. Kalian manusia adalah mahluk yang sombong, sok tau dan merasa berpikir paling benar. Padahal kalian itu bodoh, tolol dan keras kepala.” Tambah Sis. Iwan terdiam. Ia seakan tersadar oleh ucapan Sis, bahwa selama ini dirinya telah melakukan perbuatan yang salah. Ia memang sayang dengan ayam pelungnya, tapi dengan mengurung ayam itu dikandang justru menyiksa kebebasannya. Bayangkan dari pagi hingga malam dan kepagi lagi Ayam itu hanya duduk, berdiri dan tidak bisa kemana-mana. Dari hari kehari bulan ketahun ayam itu hanya berada didalam ruang yang kurang dari satu meter persegi. Bahkan saat memamerkan ayamnya kepada semua orang. Ia paksa ayam itu untuk bersuara. Padahal mungkin saja dia sedang malas atau sakit tenggorokan. Setiap pagi ayam, kucing, anjing, burung berteriak menuntut kebebasan. Namun Iwan tidak pernah paham. Imah dan imah-imah yang lain juga melakukan hal yang sama. Goblok!

**

Matahari pagi menyinari perumahan dimana Imah tinggal. Pak Yudi, kang Iwan dan beberapa bapak serta ibu-ibu yang lain sedang duduk santai dilapangan rumput kompleks perumahan pejabat itu. Anak-anak berlarian mengejar binatang-binatang peliharaan mereka yang kini dilepas bebas. Seorang anak kecil tampak memeluk kucing putih besar. Kucing itu ia letakan direrumputan dan segera berlari karena dikejar. Mereka bergumpul ceria. Kang Iwan tersenyum. Sejak kejadian di rumah Imah, warga sepakat untuk tidak mengurung binatang peliharaan mereka. Tiga hari lalu Imah sudah melepas bebas burung-burung yang ada dikandang. Dari sepuluh burung ada satu yang tidak mau keluar meski pintu kandangnya sudah dibuka lebar. Imah tersenyum melihat keluguan burungnya itu. Kang Iwan juga melepas ayam-ayam pelungnya. Begitu juga dengan yang lain. Kalaulah masih ada orang yang berani ngomong bahwa sebagai mahluk hidup kita harus saling menyayangi, melindungi dan menjaga satu sama lain. Sebenarnya bukan jaminan bahwa orang itu akan dapat menjalankan apa yang dia sebut dengan kasih sayang. Sederhana saja, jika dirinya sudah dapat melepaskan apapun yang membuat mahluk hidup lain terkekang barulah dianggap mengerti artinya kasih sayang. Kasih sayang adalah kebebasan dalam tatanan aturan yang harmonis, tidak mengikat, lepas bak peraturan baris berbaris atau etika dalam jual beli dimana gambaran keuntungan mendominasi isi kepala masing-masing orang yang sedang bertransasksi. Mereka kini paham arti kasih sayang yang diberikan oleh pencipta hidup.

“Sis, Jhon sudah kamu kasih makan?” tanya Imah saat melihat pembantunya itu datang dengan menggendong kucing besar keturunan persianya.

***




Blog Stats

  • 4,434 hits

 

Februari 2009
R K J S M S S
« Des   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728