SEGERA TERBIT !!!
Cuplikan 1
_Surya baru saja keluar dari mesjid setelah selesai sholat subuh. Bangunan suci nan megah dengan sembilan pilar penyanggah itu terang benderang ditaburi puluhan lampu mercuri yang terpancar dari setiap sudut. Disamping kanan depan, berdiri menara tegak kokoh. Sengaja dibuat indah yang seindah-indahnya, dengan hiasan marmer corak kembang-kembang kelas satu yang diatasnya, paling atas dipasang empat buah pengeras suara berkekuatan tinggi yang mengurung penjuru angin. Untuk masuk kedalam ruang utama terdapat sepuluhan anak tangga yang memanjang. Sedangkan halamannya yang luas digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Dilengkapi dengan lampu taman dan pohon kesambi rindang. Rumah ibadah yang diwarnai hijau daun itu megah.
Pagi itu, masih terdengar sayup suara orang mengaji mengiring matahari bergerak keluar, menjejakkan keberadaannya di bumi yang rentan dan tua. Sekitar sepuluhan orang menuruni anak tangga dan langsung keluar, kembali kerumah masing-masing. Ibadah baru saja selesai, perjalanan hidup masuk pada babak berikutnya, mewarnai hati mereka. Berbagai gambaran keberhasilan maupun kesusahan terhampar rata dijalanan takdir. Orang – orang itu bersiap untuk menapakinya. Berbeda dengan Surya yang memilih untuk belakangan meninggalkan mesjid megah itu. Dia lebih senang duduk di anak tangga ketujuh sambil mengamati suasana yang mulai terbangun. Mencuri aura kehidupan yang dimuntahkan oleh desa kecil yang berada jauh dari kota ini. Dia asyik sendirian, ditemani dinginnya pagi. Satu tarikan nafas panjang menandakan bahwa dirinya berada dalam kondisi paling tenang…….
Cuplikan 2
“Mestinya kalian tahu, ibu orangnya begitu. Kalau situasinya sudah begini, aku mesti siap-siap, ujarnya dengan kepala tetap di dalam ember. Tidak ada yang menjawab. Lama dia menunggu barang satu kata yang berpihak kepadanya. Tapi percuma, semua tetap masih diam. Hanya ratusan mata yang kini bertebaran dimana-mana. Apa boleh buat, jika upaya menghindar sudah tidak bisa lagi, satu-satunya jalan adalah melawan. Siap perang sampai jantung pecah meledak. Semangat perlawanan segera diteriakan, sementara kuku kakinya mencekeram kuat masuk kedalam tanah. Tangannya mengepal, semua tenaga yang kini terpusat diujung nafas yang makin menderu. Telinganya mulai menangkap suara dukungan dari ribuan sel otaknya. lawan!…lawan!…lawan!…lawan!
Cuplikan 3
Ada kupu-kupu melintas diatas kepalanya. Warnanya terang dengan ribuan titik-titik kuning kebiruan tersusun lurus dari ekor sampai kepala. Kupu-kupu itu bernyanyi tentang surga dan dia suka karena suaranya merdu. Dia pun ikut bernyanyi, menari bersama, sampai datang suara lembut lain di ujung telinganya. Suara lembut itu masuk lewat rongga telinga sebelah
kanan. Waktu itu Mariam menengok.”
“Mariam anakku, bangun nak, …ini bapak, nak,”
0 Tanggapan ke “NYANYIAN SUNYI….sebuah novel”