Boleh nggak sih kita jengkel dengan keadaan? lebih khususnya lagi dengan orang, dan lebih khusus lagi dengan temen, boleh nggak ?
Mas Asep sahabat sekaligus guru semangat. Mungkin kalau saja yang namanya gunung itu rata, semua orang akan dengan cepat membangun rasa bangga karena bisa mencapai puncak gunung ( kalo rata bukan naik gunung dong namanya )
Saya Risih dengan kata naik, meningkat, menjulang tinggi. Karena apa sih akan kita dapat disana kecuali kita berada diatas yang lain. lebih parah lagi ketika kita naik kepuncak, bekal habis, temen pada pulang netek ke ibu mereka, air tinggal segelas dan ngga punya uang untuk beli serabi. Sumpah serapah pernah keluar dari mulut saya yang monyong ini, tapi ngga ada yang denger, ngga ada yang peduli. semua orang sibuk masturbasi.
Puncak….puncak….puncak….. hanya itu semangat yang tersisa dikantong jeans belel saya. Itu juga sudah bolong sana-sini. Dengkul saya ambrol, nafas sesak melihat kesombongan yang mulai mekar dan menyebarkan harum yang memabukan seolah cuma harum itu yang paling top.
Pertanyaannya, kita masih berjalan menuju puncak kan?
Atau kita ketemu dipuncak. Mau naik apa terserah yang penting ketemu disana?
Salam,
Ar gustianz
Komentar Terakhir