26
Feb
09

MENGGAYUT MALAM

29112008022

Malam sepi.

Aku sedang menikmati kegalauan

Merayapi sudut-sudut hati.

Bersenandung,

Ikuti irama detak jantung yang makin lama makin cepat

Malam sepi.

Mata sulit terpejam

Bayangan melintas satu – satu, bak lukisan awan, makin jelas

Sejurus keyakinan bergejolak, Akupun terbang membawa desah

Merasakan tubuh dinginmu mulai menyentuhku

Jantung berdegub makin cepat.

Lembut usapmu

Hening rengkuhmu

Melayang……

Malam tambah larut. kegalauan trus marut dalam senandung

Kuingin tak berakhir.

Terkaparlah biarkan terkapar

Aku tak mau jatuh, sungguh.

Jalan membentang  seluas rasa yang bangkit dari tidurnya sendiri

Kau,  Aku dan mimpi itu menikmati sentuhan angin,

Kita  jalan bersama diatasnya,

Kita tersenyum melewatinya

Kitapun terbang

Malam masih bersenandung

Kau tertawa lepas, aku ikut tersenyum

episode pencarian baru dimulai

Mengurai mimpi, tertunda sesaat waktu

Pada malam, aku dan kau bersenandung…………cinta !

25
Feb
09

KUCING

Sejak ditinggal mati suaminya, Imah sering merasa kesepian. Apalagi semua anaknya sudah berumah tangga dan punya kehidupan sendiri-sendiri dan tidak ada satupun yang tinggal dengannya. Anak sulungnya, Ratna tinggal di malang karena suaminya pengusaha bunga, mereka tinggal disana. Yang nomor dua, Ira, tinggal di Depok dan si bungsu Lani yang baru tiga bulan lalu kawin, sekarang ikut suaminya ke Banjaramasin. Dirumahnya yang tidak telalu besar itu Imah hanya ditemani Sis, pembantu setia yang sudah tahunan ikut dengannya dan tentu saja berbagai jenis binatang. Dirumah itu ada anjing, beberapa burung kicau, iguana dan masih banyak jenis lainnya. Namun janda itu hanya mampu menikmati kelucuan mereka. Imah sama sekali tidak suka merawat mereka. Jangankan memandikan, sekedar urusan makan saja ia enggan. Sis lah yang setiap hari menjaga hidup binatang-binatang itu, khususnya kucing, meski dia sama sekali tidak punya kepentingan dengan kucing.

Hari itu kamis ketiga November. Sejak sore kucing-kucing Imah ribut ngeang-ngeong. Kaki lembutnya dipukul-pukulkan kekawat kandang yang membatasi hidup mewahnya dengan kebebasan yang hanya berjarak dua senti dari matanya. Kucing itu terus berteriak. Kadang terdengar garang seperti marah, kadang terdengar sangat memelas.

Jam Sembilan malam.

“Tadi sore si Jhon sudah kamu kasih makan, sis?” tanya Imah

“Sudah bu, bahkan air minumnya saya ganti dengan yang baru,” jawab sis setengah teriak dari dapur.

“Coba kamu lihat keluar, kenapa dia ribut terus begitu?” perintah Imah.

“Sakit barang kali bu,” jawab Sis memberikan masukan.

“Ya coba kamu lihat dong. Barangkali bener sakit,” tegas Imah. Sis paham dengan perintah itu, namun sebelum melaksanakan perintah majikannya, ia masuk kekamarnya mengambil sarung tangan kulit tebal. Entah untuk apa padahal dia cuma disuruh memeriksa. Tanpa sebab tiba-tiba kaca rias dikamarnya jatuh dan pecah. Tanpa sadar Sis berteriak dan mengejutkan Imah yang santai duduk didepan tv diruang tengah.

“Ada apa kamu Sis?” tanya Imah

“Kaca rias saya pecah bu,” jawab Sis.

“Kok bisa?”

“Jatuh.” Jawab Sis agak takut.

“Kok bisa?” tanya Imah dengan agak membentak.

“Saya tidak tahu bu, tiba- tiba saja jatuh,” jelasnya. Imah pergi kekamar Sis dan melihat sendiri kaca yang berantakan dilantai kamar.

“Bersihkan dulu nanti kena kakimu,”perintahnya

“Iya bu,” jawab Sis sambil pergi kedapur mengambil sapu dan serok sampah dan Imah kembali keruang tv. Saat itulah ia seperti tersadar. Karena tiba-tiba suasana menjadi sepi. Suara tv menghilang, padahal tvnya dia menyala. Orang jualan yang biasanya mondar mandir didepan rumah juga tiba tiba tidak ada yang lewat. Yang lebih membuat Imah terheran-heran, kucingnya tidak lagi ngeang-ngeong.

“Kamu merasakan sesuatu Sis?” tanyanya saat pembantunya itu sedang menyapu kamar.

“Iya bu. Kok semua tiba-tiba jadi sepi,” jawab Sis

“Ada apa ya?” tanya Imah lagi pelan.

“Saya ngga tahu bu,” jawab Sis pelan juga.

“Si Jhon kenapa diam ya?”

“Saya ngga tahu bu,”

“Pintu pagar depan sudah kamu kunci?”

“Sudah bu,”

“Pintu depan?”

“sudah,”

“Cepat kamu selesaikan nyapunya, terus periksa si Jhon ya!” perintah bu Imah.

“Tapi bu,” protesnya ragu.

“Saya temani…,” ujarnya sambil meninggalkan kamar, namun empat langkah kemudian lampu rumah mati.

“Sis…?” panggil Imah. Tidak ada jawaban. Imah sekali lagi memanggil, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia mulai curiga. Diputuskan untuk kembali kekamar pembantunya itu. Saat matanya difokuskan untuk mencari dimana letak pintu kamar, ia melihat kelebat warna putih yang juga ikut masuk kedalam kamar. Imah mundur kebelakang dan merapatkan tubuhnya ketembok. Gerak jantungnya mulau melambat, mulutnya tersumbat, jari-jari tangannya mati rasa. Ia terkesima dalam takut yang mendera. Apalagi tiba-tiba dikamar terdengar suara orang berbicara lembut dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Tapi Imah tidak ingin bergerak meski takut mengusai dirinya. Ia menunggu, membiarkan semuanya berlangsung. Malam tambah sepi.

Beruntung tidak lama kemudian ada tetangga yang dating, memanggil namanya. Dua tiga kali tetangga itu menanyakan apa yang terjadi, tapi Imah tidak menjawab. Karena saat itu ia melihat tubuh Sis sedang bergerak ditarik oleh tiga mahluk yang samar tapi bentuknya seperti kucing. Mata Imah tertanam disana. Tubuh Sis terus ditarik, pelan menembus tembok kamar, pintu depan dan akhirnya keluar terbang kelangit. Mata Imah terbelalak menyaksikan semua itu. Dengkulnya lemas, badannya merinding. Saat lampu menyala, ia menutup mukanya dan mulai menangis. Mendengar didalam ada yang menangis, para tetangga tadi menerobos masuk dan menjumpai Imah sedang terduduk didepan kamar belakang. Ibu-ibu tetangganya mencoba menenangkan Imah yang sekarang menangis lepas.

**

Diruang tengah sudah berkumpul para pejabat kampung. Ada pak Yudi yang ketua RW, kang Iwan sekretaris dan beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan rumah Imah.

“Bagaimana semua itu bisa terjadi bu?” tanya Yudi

“Saya tidak tahu pak,” jawab Imah.

“Sebelumnya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan?”tanya Yudi lagi.

“ngga ada pak.”

“Sekarang pembantu ibu kemana?”

“Entah. Dia dibawa oleh kucing-kucing itu.”

“Kucing yang mana bu?”

“kucing-kucing yang warnanya putih,” jawab Imah lemas. Mendapat jawaban yang tidak mereka pahami. Pak Yudi mencoba bertanya kepada semua yang ada diruang itu, barangkali saja ada yang punya pengalaman seperti kejadian Imah.

“Bagaimana bapak-bapak. Kejadian semalam sungguh tidak lazim. Tapi itu terjadi,” ujar pak RW

“Iya, barangkali dari bapak-bapak yang ada disini tahu atau pernah mengalami hal seperti yang dialami bu Imah?” tambah kang Iwan.

“Aneh,” celetuk bapak yang berbaju kaos hitam

“Saya sudah tinggal disini lebih dari lima tahun, belum pernah lihat ada kejadian seperti ini,” timpal bapak satunya.

“Lalu sekarang bagaimana pak RW?” tanya ibu zaenab.

“Kita harus mengambil sikap. Apalagi si Sis tiba-tiba menghilang. ini harus dilaporkan ke polisi,” jelasnya.

“Saya setuju pak. Jangan sampai kita yang disalahkan,” usul bapak yang berkaos hitam lagi.

“Bagaimana pak Iwan?” tanya pak Yudi.

“Sebaiknya kita cek sekali lagi pak. Maaf bu Imah boleh kami masuk kekamar belakang?” usul Iwan.

“Sudah ngga ada apa-apa. Kaca rias hilang, foto yang ditembok juga hilang,” terang Imah.

“Karena itu kami ingin lihat. Barangkali saja ada yang dapat menjadi petunjuk,” jelas Iwan lagi.

“Iya bu, biar sama- sama enak. Boleh ya bu?” sambung pak RW

“Silahkan,” jawab Imah. Bapak-bapak yang empat orang itu berdiri dan langsung menuju kamar belakang dekat dapur. Disana mereka melihat kamar sudah rapih. Dan seperti dijelaskan oleh Imah. Kaca rias dan foto memang tidak ada. Mereka memeriks setiap sudut.

“Fenomena apa ini pak?” tanya Iwan yang tiba-tiba merasa ada yang memukul pundaknya. Ia menoleh tapi tidak ada siapa-siapa. Padahal sebelumnya ia datang bersama bapak-bapak yang lain.

“Kemana mereka semua,” pikir Iwan.

“Pak RW?!” ia memanggil Yudi, tapi tidak menyahut. Iwan memutar tubuhnya, mencari disekelilingnya, tapi tempat itu kosong. Deg..jantungnya memberikan sinyal kuat. Ia segera menarik nafas panjang karena menyadari sesuatu telah terjadi pada dirinya. Dengan tenang Iwan tetap berdiri menghadap kedalam kamar.

“Silahkan kalau memang ada yang ingin disampaikan,” ujarnya

Tiba- tiba Sis muncul dari dalam tembok ditemani tiga kucing besar berwarna putih. Mereka tampak gembira.

“Jangan pernah menyiksa binatang yang tidak bersalah,” ujar Sis lembut sambil mengusap kepala kucing yang berada digendongannya.

“Siapa yang menyiksa?” tanya Iwan mantap.

“Kalian,” jawab Sis

“Termasuk saya?” tanya Iwan tegas.

“Iya..!”

“Kok?”

“Ayam pelung yang kamu simpan dikandang selama lebih dari dua tahun, apakah itu bukan penyiksaan,” jawab Sis masih dengan lembut.

“Tapi ayam itu memang harus dikandang supaya tidak lepas. Apa itu salah?” tanya Iwan.

“Bagaimana kalau kamu yang dikurung? Apa rasanya?” jawab Sis kemudian.

“Lalu saya harus bagaimana?” tanya Iwan mencoba mencari jawaban.

“Lepaskan mereka semua. Mereka mahluk hidup yang butuh kebebasan, Sama seperti kamu,” jawab Sis.

“Cuma itu?” tanya Iwan lagi.

“Lepaskan juga sifat binatang yang ada didalam diri kamu. Biarkan dia terbang dan bermain bersama hidupnya. Kalian manusia adalah mahluk yang sombong, sok tau dan merasa berpikir paling benar. Padahal kalian itu bodoh, tolol dan keras kepala.” Tambah Sis. Iwan terdiam. Ia seakan tersadar oleh ucapan Sis, bahwa selama ini dirinya telah melakukan perbuatan yang salah. Ia memang sayang dengan ayam pelungnya, tapi dengan mengurung ayam itu dikandang justru menyiksa kebebasannya. Bayangkan dari pagi hingga malam dan kepagi lagi Ayam itu hanya duduk, berdiri dan tidak bisa kemana-mana. Dari hari kehari bulan ketahun ayam itu hanya berada didalam ruang yang kurang dari satu meter persegi. Bahkan saat memamerkan ayamnya kepada semua orang. Ia paksa ayam itu untuk bersuara. Padahal mungkin saja dia sedang malas atau sakit tenggorokan. Setiap pagi ayam, kucing, anjing, burung berteriak menuntut kebebasan. Namun Iwan tidak pernah paham. Imah dan imah-imah yang lain juga melakukan hal yang sama. Goblok!

**

Matahari pagi menyinari perumahan dimana Imah tinggal. Pak Yudi, kang Iwan dan beberapa bapak serta ibu-ibu yang lain sedang duduk santai dilapangan rumput kompleks perumahan pejabat itu. Anak-anak berlarian mengejar binatang-binatang peliharaan mereka yang kini dilepas bebas. Seorang anak kecil tampak memeluk kucing putih besar. Kucing itu ia letakan direrumputan dan segera berlari karena dikejar. Mereka bergumpul ceria. Kang Iwan tersenyum. Sejak kejadian di rumah Imah, warga sepakat untuk tidak mengurung binatang peliharaan mereka. Tiga hari lalu Imah sudah melepas bebas burung-burung yang ada dikandang. Dari sepuluh burung ada satu yang tidak mau keluar meski pintu kandangnya sudah dibuka lebar. Imah tersenyum melihat keluguan burungnya itu. Kang Iwan juga melepas ayam-ayam pelungnya. Begitu juga dengan yang lain. Kalaulah masih ada orang yang berani ngomong bahwa sebagai mahluk hidup kita harus saling menyayangi, melindungi dan menjaga satu sama lain. Sebenarnya bukan jaminan bahwa orang itu akan dapat menjalankan apa yang dia sebut dengan kasih sayang. Sederhana saja, jika dirinya sudah dapat melepaskan apapun yang membuat mahluk hidup lain terkekang barulah dianggap mengerti artinya kasih sayang. Kasih sayang adalah kebebasan dalam tatanan aturan yang harmonis, tidak mengikat, lepas bak peraturan baris berbaris atau etika dalam jual beli dimana gambaran keuntungan mendominasi isi kepala masing-masing orang yang sedang bertransasksi. Mereka kini paham arti kasih sayang yang diberikan oleh pencipta hidup.

“Sis, Jhon sudah kamu kasih makan?” tanya Imah saat melihat pembantunya itu datang dengan menggendong kucing besar keturunan persianya.

***

04
Des
08

REASON

Short story

A REASON

Masterpiece of aR-Gustian

Published by PENA EMASKOM

Jl.apel no 24 kalijaga permai Timur Cirebon

Cover Design by Biondi Arfidiantono

Translated by Fify Aliwinoto

First edition, July, 2008

That morning the situation of the class seemed strained. There were forty students, no one was dare to speak or simply to lift their head to look at the face of Mr. Satrio who was in great disappointment . The feeling of stress was triggered by the lateness of three students to come to the class after the bell rang. The bell was to remind the students to start the lesson. The three students were Mudakir, Irwan and Seno, the second class students of Science program and they often arrived at school late. Mr. Satrio was very disappointed because of their coming late but to his surprise they always had reasons. Satrio actually was not a teacher type who got angry easily. As a Physics teacher, the man having thin moustache and always having neat appearance had a habit to use logical thinking in every speaking, either when teaching and also guiding his students. But this time Mr. Satrio really wanted to know the reasons why the three students often came late.

“This time what reason do you have, Dakir?”, asked Mr. Satrio.

“It’s because the public car stopped many times to wait for passengers, sir”, replied Mudakir with his face down.

” And you, Seno?”, he asked Seno.

“I’m Sorry, sir, I overslept”, replied Seno also with face down.

“Why too late ?”.

“I studied until late at night sir, because today there is a test.”

Mr. Satrio nodded his head. Then he asked Irwan, ” You, Irwan, what reason do you have this time?”.

“The same,sir”, replied Irwan reluctantly.

“The same? as whose? Dakir’s or Seno’s?”, asked Mr. Satrio. He didn’t understand what the student, who always looked unneat because his clothes were seldom ironed, meant.

“The same as their reasons, sir”. Irwan answered unconfidently.

“Great. By taking their reasons you do not need to think for another reason, even you have two reasons at the same time, very clever. It means that this morning you woke up late and you took the same public car with Dakir, Is it true?”, asked Mr. Satrio curiously.

“That’s right”, replied Irwan again. Hearing his reason the other students in the class smiled, but with awareness. They worried if Mr. Satrio became angrier.

” Well, I will consider the reasons. Now all of you stand in the corner near the door over there, while I am asking your friends’ opinions about your reasons”, Mr. Satrio instructed the three students. They obeyed him still with face down.

Mr. Satrio then walked to the teacher’s desk in the classroom. He took two books while his students were waiting worriedly for what their Physics teacher would do next. The punished students standing in the corner of the classroom just smiled to know that their friends felt strained. Mr. Satrio holded two books, one book was a Physics textbook for the second grade of Senior High School and the other book was without any title. He walked to the front of the class. Without saying anything to his students Mr. Satrio tore the text book into small pieces, then he also tore the other book into two parts. The students were astonished to see what their teacher was doing, but they didn’t dare to ask anything, all students, including the three punished students were silent. All waited, worriedly waited for his next action.

” Did all of you see that I tore the books”, asked Mr.Satrio.

“ Yes sir”, answered the students in a choir.

” Did all of you know what books I tore?”

” No sir”, again they answered in a choir.

” All of you don’t know what books these are, do you?”.

” No sir”.

“This is a Physics book, the book which I always use for teaching all of you and the other book is very valuable for me. I write all your marks and your progress on this book. Did all of you know the reason why I tore these books?”, asked Mr. Satrio. The question was not replied by his students. All kept silent. In order not to make the environment in the classroom tensed, suddenly someone was dare enough to ask, ” Why did you tear those books, sir ?” asked a schoolgirl who was sitting in the middle row.

“Why? did all of you know the reason?”

” Are you angry, sir?” The schoolgirl tried to guess the reason. Mr. Satrio gave a smile, he shook his head. He hoped the schoolgirl understood that he was not at all angry.

to be continued……….

04
Des
08

MEMBANGUN KEhidupAN

Jilid 1 : Menelaah judul di atas, membuat kita harus berfikir. Dasar pemikirannya adalah, apa sebenarnya yang kita kerjakan dalam hidup di dunia ini ?.

Kehidupan adalah gerak hidup itu sendiri. Adapun hidup itu adalah mutlak, ketetapan dari pemberi hidup. Namun persoalan kehidupan adalah persoalan bagaimana kita membangun hidup kita. Bagaimana kita mengisinya, menjalaninya. Kita menciptakan norma dan sistem yang di gunakan dalam membangun kehidupan dan itu berlangsung secara terus menerus.

Hidup itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari sistem yang berlaku dalam alam semesta ini. Sistematis hidup yang kita kenal sebagai hukum alam atau sunatullah sudah ada dan tersedia, kita hanya tinggal menjalankan, menyelaraskan, mengolah dan mengembangkannya sesuai dengan tujuan yang kita pilih. Sistematis hidup adalah mutlak dan harus menjadi acuan kita, karena jika kita membangun kehidupan yang bertentangannya, maka akan terjadi konflik yang berkepanjangan, kehilangan arah dan bentuk, baik di tingkat pemikiran maupun pelaksanaannya.

Membangun kehidupan adalah wajib bagi kita sebagai manusia. Hal itu perlu karena kita ingin mendapatkan hasil yang baik dari kehidupan yang ada. Untuk itu, sang pencipta sudah melengkapi perangkat hardware maupun software dalam diri kita. Mulai dari akal, sampai kepada bahasa sebagai alat komunikasi. Kemampuan gerak, ilham, kreatifitas, semua di berikan kepada kita. Jadi, jika kita tidak mau membangun kehidupan ini, padahal semua telah diberi olehNYA, maka kita sebenarnya bukan mahluk hidup. Kita terjepit di ruang kosong, kita menjadi bukan siapa-siapa, bingung dan sesat. Membangun kehidupan adalah pembuktian bahwa kita hidup dan meyakini ada yang memberi hidup.

04
Nop
08

23 dari 24 jam kita berbohong

Orang mengenal kata bohong sebagai pengingkaran atau tepatnya sombong. Bohong adalah kemampuan manusia  untuk menolak kebenaran yang ada atau setidaknya meniadakan yang mestinya ada. Maka itu untuk mendapatkan bohong diperlukan ketrampilan khusus terutama dalam mengkreasi situasi yang selanjutnya akan diselaraskan dengan makna kata, raut muka, gestur tubuh. Tarikan nafas juga disesuaikan dengan konsep bohong yang sedang akan dimainkan. pokoknya semua perhatian kita kerahkan agar program bohong dapat berhasil dengan sukses.Nonton tv jadi tidak nyaman. Diajak ngobrol jadi ga enak. Orang lain ketawa, sipembohong akan terus berpikir bagaimana agar kebohongannya tetap eksis.

Bohong butuh energi yang tidak sedikit, lobi dan kemampuan mengendalikan sabar deikerahakan. bahkan kadang dibutuhkan buku referensi khusus agar lawan kita mau percaya. Jika pada tahapan tertentu lawan bicara kita masih juga belum bisa menerima kebohongan kita, maka kita akan mencari cara, mulai dari yang pake senyum sampe kepada melotot. Nah saat melotot itulah kita masuk dalam jebakan situasi, karena saat itu bohong kita menjadi pembenaran, bohong menjadi dogma yang memaksa diri terus masuk. salah menjadi benar, bingung tidak lagi bisa keluar. Rasa malu dan tidak enak hati segera datang mem back up  mendorong kebohongan pada titik puncak.

Karena itu, 23 dari 24 jam hidup kita akhirnya hanya sibuk menjagai kebohongan yang sebenarnya tidak perlu.payah, bohong kok diajak main=main, ya gitu jadinya.

02
Okt
08

SAAT KEPALA BERJALAN SENDIRI

Betapa sampai saat ini kita sangat bergantung pada kepala. Bukan apa-apa karena didalamnya tersimpan bermacam keinginan. Dari yang sederhana hingga kepada bentuk-bentuk yang rumit. Dalam sehari kita bisa menggunakan kepala untuk berbagai kepentingan ( makanya dia sering sakit..!) Baik yang positif maupun yang negatif, semua berangkat dari kepala kita.

Saya sempat berpikir, kenapa juga tuhan membuat semuanya berkumpul dikepala. Mata untuk melihat, hidung untuk mendengar dan mulut sebagai humasnya. Mengapa tidak sekali-kali mata diletakkan dikaki agar kita bisa melihat celana dalamnya artis atau pantat besarnya ibu pejabat?!. Mumet aku…..

Dari kepala juga diri ini kemudian bergerak mencari bentuk. Setelah teman-teman pada pergi ( saya kira tadinya cuma pergi makan atau kewarnet ) eh ternyata pada kagak balik. Jadilah kepala ini penuh dan mulai memberontak mencari teman. Syukur pada malam lebaran yang baru lewat, film komedi saya akhirnya tayang. Meski terasa hambar, namun cukup membuat kepala ini terdiam sebentar. Setidaknya dia menikmati karyanya sendiri. Apalagi orang yang ada disekitarnya dapat tersenyum dengan menaikan ujung bibir mereka sekitar satu senti saja, cukuplah….

Setelah hampir dua minggu saya biarkan kepala ini berjalan sendiri, mencari kawannya dan membentuk kembali sesuai keadaan yang ada saya cukup tenang. Hati saya larang untuk ikut mengomentari. Belum saatnya, saya bilang……

Ada satu ganjalan yang mungkin nggak penting2 amat. Andai saja teman-teman masih disini mungkin kepala saya tambah senang, tapi sudahlah saya tidak berharap banyak. Toh mereka juga punya kepala yang juga butuh hidup……salam

12
Jul
08

NGOBROL ITU INDAH

Orang tua kita dulu sering marah, jika kita banyak ngobrol. Ngabisin waktu….begitu ujar mereka. Tapi sungguh ketika saya bertemu dengan kawan cabe rawit ternyata omongan orang tua dulu itu salah. Alasannya sederhana, ngobrol dengan cabe rawit sama sekali tidak membuang waktu karena tidak pedes dan cenderung manis malah. Obrolan kami seperti sedang main sepak bola. Operan long shoot maupun Foot to foot ball bener-benar rapih karena tepat sasaran. Masing-masing kami tidak perlu membuat penjagaan yang ketat, man to man marking istilah Edy sopyan, pengamat sepak bola yang sekarang dipenjara karena nipu. Kami benar-benar menikmati setiap tendangan yang dikirimkan. Saya baru tahu ternyata kawan cabe rawit itu adalah bekas pemain nasional yang entah mengapa dia memilih untuk bersembunyi dibelakang gawang. Saya hampir saja marah jika teman kecil itu tidak cepat menjelaskan alasannya. Kembali saat kami bermain oper mengoper bola, luar biasa indah. Penonton bertepuk tangan saat saya mengoper bola NIAT yang dengan tangkas ditangkap oleh teman saya itu. Walau dia sempat mengecoh saya – meski tidak dengan niat jahat – mengoper bola mentah yang sebetulnya bola itu bisa saja langsung dia tendang kearah gawang. Dalam hati saya berujar, ternyata teman satu ini punya niat yang tulus. Dia mengerti artinya bermain dan yang penting dia paham aturan…..hidup.

Saya bangga bisa kenal anda bung.

Salam

12
Jul
08

MENANGISLAH SAAT MEMANG ITU PERLU

Hati kita hanya punya dua ruang yang dapat kita masuki. Pertama jika kita membutuhkan kesedihan dan yang kedua jika kita ingin kegembiraan. Hati adalah tempat dimana ruangannya sejuk meski tanpa air conditioning. Menangislah disana jika kita memang perlu itu. Dijamin tidak ada yang melihat apalagi mentertawakan kita karena kita menangis. Merenunglah disana jika persoalan dikepala sudah mulai meluber dan tumpahannya kemana-mana. Tidak perlu penasehat, tidak perlu psikolog, aatu ibu yang biasa meninabobokan kita. Kawan hati adalah rumah tempat kita kembali jika lelah sudah mendera. ——-makanya tau batas dong.

Salam,

21
Jun
08

SAPA SALAM

Dua puluh empat jam itu singkat sekali, apalagi ketika kepala ini penuh dengan berbagai rencana. Karena itu aku merasa bersalah karena terlamabt merespon sapa teman-teman. Tapi aku yakin teman-teman adalah benar-benar teman jadi aku nggak takut kalian tinggal.

Dalam kesempatan ini aku mau sampaikan bahwa buku BEDA sudah menyebar mulai dari Jakarta hingga ke Denpasar. Bisa dibeli di GRAMEDIA atau TOGA MAS.

Tidak dalam waktu lama buku ketiga yang judulnya NYANYIA SUNYI akan segera dirilis….tunggu ya.!!

21
Jun
08

NYANYIAN SUNYI….sebuah novel

SEGERA TERBIT !!!

Cuplikan 1

_Surya baru saja keluar dari mesjid setelah selesai sholat subuh. Bangunan suci nan megah dengan sembilan pilar penyanggah itu terang benderang ditaburi puluhan lampu mercuri yang terpancar dari setiap sudut. Disamping kanan depan, berdiri menara tegak kokoh. Sengaja dibuat indah yang seindah-indahnya, dengan hiasan marmer corak kembang-kembang kelas satu yang diatasnya, paling atas dipasang empat buah pengeras suara berkekuatan tinggi yang mengurung penjuru angin. Untuk masuk kedalam ruang utama terdapat sepuluhan anak tangga yang memanjang. Sedangkan halamannya yang luas digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Dilengkapi dengan lampu taman dan pohon kesambi rindang. Rumah ibadah yang diwarnai hijau daun itu megah.

Pagi itu, masih terdengar sayup suara orang mengaji mengiring matahari bergerak keluar, menjejakkan keberadaannya di bumi yang rentan dan tua. Sekitar sepuluhan orang menuruni anak tangga dan langsung keluar, kembali kerumah masing-masing. Ibadah baru saja selesai, perjalanan hidup masuk pada babak berikutnya, mewarnai hati mereka. Berbagai gambaran keberhasilan maupun kesusahan terhampar rata dijalanan takdir. Orang – orang itu bersiap untuk menapakinya. Berbeda dengan Surya yang memilih untuk belakangan meninggalkan mesjid megah itu. Dia lebih senang duduk di anak tangga ketujuh sambil mengamati suasana yang mulai terbangun. Mencuri aura kehidupan yang dimuntahkan oleh desa kecil yang berada jauh dari kota ini. Dia asyik sendirian, ditemani dinginnya pagi. Satu tarikan nafas panjang menandakan bahwa dirinya berada dalam kondisi paling tenang…….

Cuplikan 2

Mestinya kalian tahu, ibu orangnya begitu. Kalau situasinya sudah begini, aku mesti siap-siap, ujarnya dengan kepala tetap di dalam ember. Tidak ada yang menjawab. Lama dia menunggu barang satu kata yang berpihak kepadanya. Tapi percuma, semua tetap masih diam. Hanya ratusan mata yang kini bertebaran dimana-mana. Apa boleh buat, jika upaya menghindar sudah tidak bisa lagi, satu-satunya jalan adalah melawan. Siap perang sampai jantung pecah meledak. Semangat perlawanan segera diteriakan, sementara kuku kakinya mencekeram kuat masuk kedalam tanah. Tangannya mengepal, semua tenaga yang kini terpusat diujung nafas yang makin menderu. Telinganya mulai menangkap suara dukungan dari ribuan sel otaknya. lawan!…lawan!…lawan!…lawan!

Cuplikan 3

Ada kupu-kupu melintas diatas kepalanya. Warnanya terang dengan ribuan titik-titik kuning kebiruan tersusun lurus dari ekor sampai kepala. Kupu-kupu itu bernyanyi tentang surga dan dia suka karena suaranya merdu. Dia pun ikut bernyanyi, menari bersama, sampai datang suara lembut lain di ujung telinganya. Suara lembut itu masuk lewat rongga telinga sebelah

kanan. Waktu itu Mariam menengok.”

Mariam anakku, bangun nak, …ini bapak, nak,”




Blog Stats

  • 3,587 hits

 

Juli 2009
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031